BLOG TERINDAH Q

haripotter.Blogdetik.com weblog

10 BINATANG YANG AKAN MASUK SURGA

Dalam Al Qur’an ALLAH mengatakan bahwa ada 10 binatang yang akan masuk surga nya ALLAH SWT, sangat beruntung para binatang tersebut itulah penghormatan ALLAH terhadap makhluknya .Adapun binatang tersebut adalah :
1. Keledai Nabi UZAIR.
2. Ikan NUN (Ikan PAUS).
3. Burung HUD HUD ratu Balqis.
4. Semut Nabi SULAIMAN
5. Anak SAPI.
6. Sapi Nabi Musa.
7. Anjing Ashabul Khahfi.
8. Bouraq Nabi Muhammad SAW.
9. Unta
10. qibas Nabi Ismail.
Itulah sekelumit tentang binatang yang akan masuk surga.

MEMBEBASKAN CINTA

Ketika angin berlari menuruni bukit, sepasang kaki tua masih melangkah di antara ilalang. Jubah putihnya melambai pelan oleh sentuhan tangan-tangan usil milik sang angin yang berkejaran di antara kedua kakinya. Tongkat kayu penuntun langkah berjalan di depan, menyentuh bebatuan dan padang nan luas. Matanya cekung menatap arah, sinar matahari masih pongah tersenyum. Kening yang basah oleh bulir keringat sedikit mengernyit, menampakkan guratan milik sang wajah tua. Akankah di depan sana perhentian akan berakhir?

Sesampai di kaki bukit ia menemukan sebuah taman. Ia coba menghilangkan penat untuk semusim perjalanan. Di bawah sebuah pohon hijau nan rindang, ia duduk di sebuah batu. Dan kakinya coba menyejukkan diri pada air yang mengalir di dekatnya. Sungai itu elok membelah taman. Tak disia-siakannya bening air buat pelepas dahaga, membasuh kepala. Air menetes dari wajahnya yang telah basah, bergelantungan pada janggut lebat yang memutih. Rambut tua yang panjang berkilau oleh butir-butir air yang menempel diterpa garis-garis sinar matahari yang menyelusup dari celah-celah dedaunan pohon rindang tempat bernaung.

Ia menatap takjub pada mahluk hitam yang terbang dan hinggap di atas dahan pohon. Gagah dengan sayap terkembang.

“Siapakah engkau yang terbang tinggi? Agungnya dirimu yang telah mengitari segala lekuk bumi di antara hembusan angin yang berlari,” tanya lelaki tua itu pada mahluk itu. Matanya menatap lekat.

“Aku hanyalah sang Rajawali. Petualang sejati yang mengarungi angkasa. Aku dapatkan kebebasan pada jagat yang mengerami bumi dengan waktu tiada pernah henti,” jawabnya sambil menatap ke bawah.

“Sungguh hebat dirimu wahai mahluk yang cerdas. Engkau tahu rahasia alam dari semua ketinggian. Di matamu tak ada ketidak tahuan. Di bola matamu terhampar segala prilaku hidup. Engkau tak dungu oleh tipuan alam. Aku jatuh cinta padamu, maukah kau jadi kekasihku?” Lelaki tua itu terpesona olehnya, kejujurannya mengucap jernih.

“Wahai lelaki tua, aku adalah bangsa pengembara sepertimu. Aku telah menyaksikan segala dusta pada cinta. Tak ada kesempurnaan pada cinta. Sekuat-kuatnya bertahan pada cinta, tubuh lain selalu mencoba mengganggu sang kekasih. Aku tak patut sombong oleh kecerdasanku, tapi aku menjadi saksi, oleh cinta banyak orang terluka. Jadi buat apa kita mati oleh cinta. Carilah yang lebih hebat dari diriku, carilah kekasih yang mau tinggal bersamamu. Aku tak mau menjadi bodoh oleh cinta, aku mahluk bebas,” ucap sang Rajawali.

“Tapi sang Rajawali, tidakkah kau sadar, kau pun mahluk sombong yang lemah. Di saat engkau lelah terbang jauh, kau pun harus turun ke bumi untuk hinggap di batang-batang pohon,” kata lelaki tua, ada nada sindiran pada ucapnya.

“Pohon-pohon memang kekasihku, tapi mereka adalah mahluk lemah yang bisa diperbudak. Aku tak pernah hiraukan ratap mereka, karena cakarku bisa menancap di dahan manapun. Pesonaku akan melunakkan hati mereka. Selamat berdungu ria dengan pencarian cintamu kawan,” kata sang Rajawali. Sayapnya mulai terkepak dan melayang terbang sebelum mulut tua milik lelaki itu mengucap tanya yang lain.

Makin ke tengah taman, ia jumpai kuntum-kuntum bunga mawar yang tertawa ceria. Binal bergoyang ke sana ke mari, sangat menggoda. Menampakkan helai-helai daun dan bunga yang bermantel bulir-bulir air. Wanginya terbang bersama angin, menepis resah pencarian yang tak kunjung tiba milik sang pengelana itu. Mata lelaki tua itu terbelalak oleh lekuk yang sunguh sangat erotis, liurnya menetes kotori janggutnya. Kesempurnaan susunan kelopak bunga, dan mahkota yang bertuliskan keanggunan memikat hati bagi yang memandang padanya.

“Sunguh nyaman di dekatmu wahai sang bunga mawar. Tak pernah ku jumpai kuntum sepertimu di sepanjang perjalananku, kuntum bunga yang ramah tersenyum. Tak ada kesombongan akan keindahan diri, akan kekayaan mahkota yang melekat pada dirimu. Engkau kaya akan damai bukan keindahan fisik belaka. Aku jatuh cinta padamu,” ucap sang lelaki tua pada bunga-bunga mawar yang merekah di tengah taman. Matanya memancarkan binar-binar, bagai surya bangun di pagi hari.

“Aku mahluk tak berpemilik. Aku memberikan cinta pada mereka yang meminta. Aku mahluk bebas yang tak mau dikekang. Ditawan oleh cinta sama saja dengan mati di keterasingan jiwa. Bagiku hidup itu indah bila kita semua bisa saling memiliki tanpa ada yang merasa jadi pemilik,” ucap sang bunga mawar, tubuhnya yang dihinggapi duri-duri bergoyang pelan.

Belum sempat ia bertanya lagi, seekor kumbang telah hinggap di atas mahkota bunga itu. Mereka berpagutan sungguh mesra. Tak ada yang berontak, tak ada yang dipaksa. Setelah itu kumbang-kumbang pun berpindah pada pesona-pesona yang lainnya.

Tidakkah sang bunga sadar, dirinya hanya menjadi persingahan kumbang-kumbang, hanya untuk menikmati cintanya sesaat dan kemudian berlalu. Sungguh bodoh, batin lelaki tua.

Lelaki itu melangkah kian bergegas, matanya meniupkan rasa muak dan mual. Ia tak ingin berlama-lama hidup sendiri, cukuplah sudah sepi menyelimuti hari-hari yang lalu. Untuk waktu yang akan bergulir ke depan, ia butuh kekasih tempatnya menambat jiwa.

Di kejauhan dilihatnya seorang perempuan berjalan ke arahnya. Langkahnya anggun menapak tanah. Tubuhnya yang sempurna memancing perhatiannya. Kian nyata di jarak yang tak lebih dari beberapa langkah darinya.

“Apa gerangan yang membawa sang puan ke sini?” tanya lelaki tua, matanya terbelalak penuh keheranan.

“Angin yang membaui resah dirimu hingga jejakmu ku kenali sebagai jejak yang meracau. Adakah yang kau cari di perhentian ini?” tanya sang puan sambil tersenyum manis. Rambutnya tergerai dipermainkan angin. Lehernya yang jenjang sungguh indah dipandang.

“Aku hanyalah sang musafir yang melangkah di jalan waktu. Matahari menemaniku dan sang rembulan tempat aku bercerita. Mengapa kau ada di taman ini sendiri?” tanya lelaki tua mencari tahu, rasa herannya belum sirna.

“Aku menanti sang kekasih yang kelak datang dan tinggal di hatiku,” kata sang puan.

“Aku datang untukmu, maukah kau jadi kekasihku. Aku sayang kamu,” ucap lelaki tua. Kejujurannya mengucap jernih.

“Secepat itu kau ucap sayang. Apa yang menyebabkan kau mengatakan itu?” tanya sang puan penuh rasa heran.

“Aku sayang padamu di detik saat kita berjumpa tadi. Rasa sayangku timbul oleh ketakutan akan kehilanganmu. Karena aku sadar, aku sang musafir yang ditakdirkan terus melangkah di bawah awan, kelak aku akan meninggalkan taman ini, meninggalkanmu. Tak mendapatkanmu di sisiku akan membuatku sangat kehilangan. Ketika rasa kehilangan itu hadir, tubuh ini akan kian remuk redam. Tak kunjung selesai rindu yang kian membengkak memenuhi dadaku. Nafasku akan sesak oleh rindu dan langkahku akan tertatih, terjerembab. Engkau ada di hatiku saat ini dan nanti,” ucap lelaki tua itu.

“Engkau mengatakan sebelum melakukan. Pergilah ke ujung dunia. Bila engkau terjerembab oleh rindu yang menggunung, kembalilah padaku. Ujilah dahulu rindu milikmu. Tempatmu di sini, bukan di langkah-langkah yang tak kunjung jelas,” ucap sang puan.

“Aku lelaki yang tak ingin di tawan oleh sang puan. Tempatku bukan di sini, tempatku di langkah-langkah waktu. Aku tak ingin terpenjara oleh cinta. Aku tak ingin dungu oleh cinta. Atau maukah sang puan hadir bersama langkahku di pengembaraanku?” tanya lelaki tua penuh harap.

“Tempatku di sini, tempat memenjarakan kaum lelaki yang terpikat olehku. Karena rantai cintaku akan mengekangnya,” ucap sang puan ketus.

“Adakah cinta yang tak mengekang? Aku mencari cinta yang membebaskan cinta,” tanya lelaki tua.

“Carilah dia di jalan tak berujung. Di sana akan kau jumpai tembok tebal yang tinggi dan di baliknya seonggok pembebas menanti manusia sejenismu. Mungkin hanya dia yang layak bagi manusia bebas sepertimu. Benturkan kepalamu pada temboknya, biarlah darah yang mengucur akan melumerkan dinding itu. Dan pengorbananmu akan memikatnya. Atau kau akan mati kehabisan darah sebelum kau rasakan cinta sejati miliknya,” ucap sang puan.

Dan tanpa menunggu masa, lelaki tua itu berjalan pergi ke arah mana telunjuk sang puan menghunjuk. Meninggalkan sang puan dengan rumah tahanannya. Lelaki tua melangkah pasti di kebebasan cinta miliknya.

Kegilaan Cinta Majnun, Kesetiaan Layla…

“……Bila kau tahu hakikat seorang pencinta, kau akan menyadari bahwa ketunggalan harus meniadakan dirinya, untuk musnah ke dalam pelukan kekasihnya.” (Majnun)

“……Bahkan sekarang aku seperti lilin terbakar. Bila aku mendekati api, aku akan hangus seluruh. Kedekatan membawa bencana, dan para pencinta harus menghindarinya. Lebih baik sakit daripada setelah itu harus menahan malu karena menanggung perawatan setelah terbakar oleh gairah pertemuan… Kenapa meminta lebih?” (Layla)

Layla Majnun sesungguhnya merupakan kisah cinta klasik yang dikisahkan dari mulut ke mulut di tanah Arab sejak Dinasti Umayyah berkuasa (661-750 M). Diyakini oleh banyak orang roman ini didasarkan pada kisah nyata tentang seorang pemuda bernama Qays putra Al-Mulawwah, penguasa Bani Amir di Arabia.

Ada banyak versi cerita pada masa itu. Dalam salah satu versi, Qays menghabiskan masa mudanya bersama Layla di tenda mereka. Dalam versi yang lain, Qays hanya memandang Layla dan langsung jatuh cinta kepadanya dengan cinta yang membuatnya pikun pada dunia. Betapapun, ada sebuah persamaan dalam masing-masing versi: Qays berubah menjadi gila karena cintanya kepada Layla; karena alasan itulah ia disebut “Majnun”, yang berarti “gila”. Melalui kisah itulah kemudian syair-syair Arab, yang berbicara tentang romantika cinta Majnun dan kesetiaan Layla yang menggetarkan, digubah.

Layla Majnun sangat menginspirasi para penyair Arab, khususnya kaum Sufi, karena sosok Layla menjadi simbol yang merepresentasikan Yang Terkasih, dan sosok Majnun merepresentasikan seorang pencinta. Dalam tradisi Sufi, hubungan antara pencinta dan Kekasih, juga antara hamba dan Tuhan, hanya bisa terjalin melalui cinta.

Dari tradisi lisan kisah tersebut kemudian merasuk ke dalam khazanah sastra Persia, dan Nizami kemudian menuliskannya pada abad 12 dalam Bahasa Persia. Dalam versi Nizami, Qays dan Layla sama-sama jatuh cinta ketika keduanya bertemu di sekolah tempat mereka menuntut ilmu bersama. Namun kemudian, mereka terpisah karena ayah Layla tidak menyetujui hubungan mereka. Dalam perjalanan, Layla dinikahkan secara paksa oleh ayahnya dengan lelaki yang bernama Ibnu Salam. Namun Ibnu Salam tak pernah bisa menjamah keperawanan Layla—yang senantiasa setia kepada Qays hingga akhir hayatnya. Sementara itu, Qays kemudian berubah menjadi gila hingga ia lebih terkenal dengan sebutan “Majnun”. Ia kehilangan unsur kemanusiaan di dalam dirinya, berkawan dengan binatang-binatang rimba, dan jiwanya sepenuhnya lebur ke dalam bayangan kekasihnya.

Kenapa versi yang ditulis Nizami menjadi sangat terkenal dan bahkan mengalahkan versi-versi kisah sebelumnya?

Nizami, di samping mempertahankan fakta dan seting utama cerita, memberikan tambahan-tambahan penting ke dalam kisah sebelumnya: panorama di taman, penyerangan Nawfal terhadap kabilah Layla, kunjungan ibu dan paman Majnun, kematian ibu Majnun, kisah tentang pemuda dari Baghdad yang terpesona pada kepenyairan dan kegilaan Majnun, kematian suami Layla, juga kisah tentang dunia hewan dan renungan ala Sufi, yang semuanya itu tidak ditemukan dalam sumber-sumber awalnya di Arab. Sumber-sumber awal tentang kisah Layla dan Majnun tidak dimaksudkan untuk menciptakan sebuah karya seni adiluhung, melainkan hanya merekam karya-karya syair Majnun yang sangat terkenal di seluruh jazirah Arab.

Selain mempertahankan suasana kehidupan suku Badui Arab, tenda-tenda kabilah di gurun, dan tradisi tribal para penghuninya, pada saat yang sama Nizami juga merasukkan kisah tersebut ke dalam semesta peradaban Persia. Kegersangan dan kekakuan kisah lama dibingkai oleh Nizami dengan deskripsi mengenai angkasa bertabur bintang dan matahari yang bersinar, atau rahasia-rahasia terdalam dari jiwa manusia, dalam sebuah bahasa yang luar biasa kaya, penuh dengan citraan-citraan yang mempesona. Nizami membebaskan kisah tersebut dari batasan-batasan peristiwa yang aksidental dengan menaikkannya ke level spiritual dan memperkayanya dengan kecintaannya akan warna, aroma, dan suara, seraya membumbuinya dengan permata, bunga-bunga, anggur, dan bebuahan.

Yang jauh lebih penting dari Nizami adalah pandangannya terhadap takdir yang menimpa Layla dan Majnun sebagai “tragis”, sangat berbeda dengan pandangan Barat tentang makna “tragedi” dan “penderitaan”. Bahwa tidak terpenuhinya cinta mereka di dunia adalah ciri khas dari mistisisme yang dihidupi Nizami. Laylanya Nizami menyatakan dengan jelas bahwa dalam cinta, kedekatan yang terlalu dekat sangatlah berbahaya bagi sepasang kekasih.

Dengan demikian, penderitaan para pencinta tidak bisa dikatakan sebagai “tragis”, tidak bisa diinterpretasikan dari sudut pandang moralitas konvensional. Penderitaan pencinta meruntas belenggu sifat kemanusiaan, memampukan mereka untuk bebas dari “diri” yang terikat dengan dunia fana. Kematian adalah pintu gerbang menuju dunia “sejati”, ke Rumah yang dihasrati jiwa pencari, dan Nizami menyingkap hal ini dalam metafora-metafora yang brilian dan dinamis: lilin yang menumpahkan air mata kegetiran; kerang yang menderita karena mengandung mutiara; berlian yang merindu-dendam ingin terbebas dari batu karang tempatnya tidur selama jutaan tahun; mahkota-mahkota mawar mengering menjadi setetes sari mawar yang semerbak dan berharga; Majnun meniadakan “pemakan dalam dirinya”, mengatasi rasa lapar, egoisme, dan kepemilikan, serta membubarkan lapak-lapak perasaan di dalam tubuhnya. Ia menjadi “Penguasa Cinta” dalam Keagungan. Tidak setiap peristiwa jatuh cinta dapat mencapai keadaan mulia ini. “Cinta yang tiada abadi,” tutur Nizami, “hanyalah permainan indra dan cepat punah bagaikan masa muda.”

Tak heran jika Hakim Nuruddin Abdurrahman Jami, penyair Sufi Persia abad 15, yang menulis roman alegoris Yusuf dan Zulaikha, mengungkapkan, “Meskipun hampir semua karya Nizami pada permukaannya tampak sebagai roman, dalam kenyataannya karya-karyanya menampilkan selubung bagi kebenaran-kebenaran hakiki dan pengetahuan ilahi.” Goethe, pujangga terbesar Jerman, berujar, “Roh agung yang berbicara tentang perhelatan termanis dari cinta yang terdalam, itulah Nizami…”

Melalui Nizami, kisah tersebut kemudian menyebar ke wilayah-wilayah Turki, Eropa, Afrika, Kaukasus, India, Nusantara, dan mempengaruhi banyak penulis setelahnya, termasuk Jalaluddin Rumi, penyair Sufi terbesar. Menurut salah satu sumber, kisah Romeo dan Juliet yang ditulis William Shakespeare pun dipengaruhi oleh karya ini. Kemasyhuran kisah ini memberikan ilham bagi banyak seniman baik pelukis, pemusik, maupun sineas, dalam menciptakan beragam karya seni yang menggambarkan kisah cinta tak terbalas, namun cinta itu sendiri mentransformasikan pencintanya ke dalam persatuan mistik dengan Sang Kekasih.

KATA-KATA MENGENAI WANITA KAHLIL GIBRAN

tamara-bleszynskiPeradaban modern telah membuat wanita sedikit lebih bijaksana, namun hal itu telah menciptakan penderitaan yang lebih berat baginya karena ketamakan laki-laki. Wanita masa lalu adalah istri yang bahagia, namun wanita masa kini adalah seorang nyonya yang menderita.

Di masa lalu wanita berjalan dalam cahaya dengan mata buta, namun sekarang ia berjalan dengan mata nyalang dalam kegelapan. Ia anggun dalam kebodohan, berwibawa dalam kebersahajaan, dan perkasa dalam kelemahannya. Kini ia telah menjadi buruk dan kelincahan, picik dan tanpa hati nurani dalam ilmu pengetahuan, kelincahan dan kewibawaan, kelemahan raga, serta keperkasaa jiwa menyatu dalam diri seorang wanita?

Seorang wanita yang telah dilengkapi oleh Tuhan dengan keindahan jiwa dan raga adalah sebuah kebenaran, yang sekaligus nyata dan maya, yang hanya bisa kita pahami dengan cinta kasih, dan hanya bisa kita sentuh dengan kebajikan, dan jika kita mencoba melukiskan wanita demikian itu, ia pun menghilang seperti kabut.

Hari ini aku telah bersama laki-laki yang kucintai, ia dan aku menyatu dalam nyala obor Tuhan yang telah diciptakan sebelum dunia ada. Tak ada satu kekuasaan pun di alam ini yang mampu merampas kebahagiaanku. Karena kebahagiaanku memancar dari rengkuhan dua jiwa yang dipadukan oleh saling pengertian dan dipayungi dengan cinta kasih.

Apa yang bisa aku katakan tentang seorang pria yang terkoyak di antara dua wanita: seorang merajut saat-saat keterjagaan pria itu keluar dari mimpi-mimpinya; yang lain membentuk mimpi-mimpi pria itu dari saat-saat keterjagaannya? Apa yang harus kukatakan tentang sebuah hati yang diletakkan oleh Tuhan di antara dua lampu.

“Katakanlah, kenapa anda tidak pernah menikah?” Dengan senyum dia menjawab, “…Baik, anda lihat bahwa perkawinan adalah seperti ini. Jika saya memiliki isteri, dan jika saya harus melukis atau membuat puisi, saya harus melupakan keberadaannya selama beberapa hari saat saya melakukannya. Dan anda tahu bahwa tidak ada perempuan yang mencintai akan mampu bertahan lama dengan suami yang seperti itu.

Kebahagiaan perempuan tidak terletak pada kemuliaan sang suami, bukan pada kehormatan dan kelembutanya. Tapi pada cinta yang memadukan jiwanya dan jiwa lelaki yang dicintainya. Kasih sayangnya tercurah – hati menjadikan masing-masing sebagai suatu anggota badan kehidupan dan dalam satu kalimat di atas bibir Tuhan.

Setiap laki-laki mencintai dua wanita; satu adalah ciptaan imajinasinya, sedang yang lain lagi, belum dilahirkan.

Laki-laki yang tidak memaafkan wanita untuk kesalahan kecilnya, tak akan dapat menikmati besar kebaikannya.

Tiada pidana yang lebih berat daripada yang dijalani seorang wanita yang mendapati dirinya terperangkap diantara seorang pria yang dicintainya dan seorang pria lain yang mencintainya.

Kebahagiaan seorang wanita tidak dapat ditentukan dalam kekayaan seorang lelaki atau dalam kepatuhan wanita kepadanya, dan juga bukan di dalam kebaikan hatinya. Kebahagiaan wanita terhadap lelaki, cinta yang mencurahkan semua perasaannya ke dalam hati lelaki, yang membuat mereka menjadi cabang dari pohon kehidupan, satu kata dalam bibir Tuhan.

Aku menghormati suamiku, karena dia seorang yang baik dan berhati lembut. Dia juga selalu membuatku bahagia. Dia dengan rela memberikan kekayaannya kepadaku agar aku selalu merasa bahagia, tetapi tidak ada satu pun dari semua ini yang sederajat dengan cinta suci dan sejati, cinta yang membuat segalanya tampak kecil sementara cinta sendiri tetap besar.

Jangan pisahkan aku darimu dan jangan pernah mengatakan aku tak setia, karena tangan cinta yang mengikat jiwaku dan jiwamu lebih kuat dari tangan pendeta yang menghantarkan tubuhku pada kehendak suamiku.

Hati nurani wanita tidak berubah oleh waktu dan musim, bahkan jika mati tetap abadi, hati itu takkan hilang sirna. Hati seorang wanita laksana sebuah padang yang berubah menjadi medan pertempuran; sesudah pohon-pohon ditumbangkan dan rerumputan terbakar dan batu-batu karang memerah oleh darah dan bumi ditanami dengan tulang-tulang dan tengkorak-tengkorak, ia akan tenang dan diam seolah tak ada sesuatu pun terjadi.

Seorang wanita bermata melankolis mendesah dan berkata, ”Cinta adalah racun mematikan, nafas ular hitam berbisa yang menderita di neraka, terbang melayang dan berputar menembus langit sampai dia jatuh tertutup embun, hanya untuk diminum roh-roh yang haus. Kemudian mereka akan mabuk untuk beberapa saat, diam selama satu tahun dan mati untuk selama-lamaya.”

SEKUMTUM “CINTA” PENGANTIN SURGA

Kasih…

cinta yang terindah adalah mencintaimu,

sebuah cinta yang membawa kepada kebajikan.

Cinta yang indah hingga angin syurga berasa malu

burung syurga menjauh dan malaikat menutup pintu.

Mendengar penuturan kekasihnya itu, pemuda tersebut lalu bertanya kepadanya, “Di mana engkau berada?”

Kekasihnya menjawab dengan melantunkan syair:

Aku berada dalam kenikmatan

dalam kehidupan yang tiada mungkin berakhir

berada dalam syurga abadi yang dijaga

oleh para malaikat yang tidak mungkin binasa

yang akan menunggu kedatanganmu,

wahai kekasih…

CINTA,IMAN, AMAL SHOLEH SERTA AKHLAK

Cintamu kepada sesuatu, menjadikanmu buta dan tuli.

Akan tetapi setelah hubungan antara anda berdua telah halal, maka sepontan setan menyibak tabirnya, dan berbalik arah. Setan tidak lagi membentangkan tabir di mata anda, setan malah berusaha membendung badai asmara yang telah menggelora dalam jiwa anda. Saat itulah, anda mulai menemukan jati diri pasangan anda seperti apa adanya. Saat itu anda mulai menyadari bahwa hubungan dengan pasangan anda tidak hanya sebatas urusan paras wajah, kedudukan sosial, harta benda. Anda mulai menyadari bahwa hubungan suami-istri ternyata lebih luas dari sekedar paras wajah atau kedudukan dan harta kekayaan. Terlebih lagi, setan telah berbalik arah, dan berusaha sekuat tenaga untuk memisahkan antara anda berdua dengan perceraian:

(فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ) البقرة 102

“Maka mereka mempelajari dari Harut dan Marut (nama dua setan) itu apa yang dengannya mereka dapat menceraikan (memisahkan) antara seorang (suami) dari istrinya.” Al Baqarah 102.

Saudaraku! Cintailah kekasihmu karena iman, amal sholeh serta akhlaqnya, agar cintamu abadi. Tidakkah anda mendambakan cinta yang senantiasa menghiasi dirimu walaupun anda telah masuk ke dalam alam kubur dan kelak dibangkitkan di hari qiyamat? Tidakkah anda mengharapkan agar kekasihmu senantiasa setia dan mencintaimu walaupun engkau telah tua renta dan bahkan telah menghuni liang lahat?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ) متفق عليه

“Tiga hal, bila ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya ia merasakan betapa manisnya iman: Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain dari keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dirinya, bagaikan kebenciannya bila hendak diceburkan kedalam kobaran api.” Muttafaqun ‘alaih

sepenggal kisah

Surya Beranjak Pergi di batas Cakrawala

tanpa pamit.. tanpa permisi..

Tanpa Salam..

Tanpa Senyum…

Tak ingin kah menunggu datang nya SANG DEWI MALAM..

Yang Selalu Setia Menunggu…

Tapi…………………

Harapan Tinggal Harapan …

Dinding Yang Tebal  dan Tinggi Memisahnya….img_00057

Selamat datang blog baruku

ini adalah tulisan pertama pada blogku

 haripotterbanjarmasin at rocketmail.com